Minggu, 11 Februari 2018

Review: Novel Dilan, Dilan #2 dan Milea


Akhir-akhir ini dunia media sosial lagi marak ngutip gombalannya Dilan dari film Dilan 1990. Gw pun akhirnya jadi ikut penasaran sama jalan ceritanya. Sebenarnya udah penasaran dari agak lama dan berniat untuk beli bukunya. Tapi akhirnya gak pernah jadi kebeli karena emang bukan prioritas. Berhubung film-nya udah tayang di bioskop dan banyak meme yang bertebaran di media sosial, akhirnya rasa penasarannya muncul lagi.

Berhubung kemaren ada acara tuker kado sama Icu, Omah dan Ayu karena sama-sama ulang tahun di bulan Januari (kecuali Ayu di bulan Juli), akhirnya gw minta mereka untuk beliin gw trilogi novel Dilan, yaitu Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990, Dilan Bagian Kedua: Dia adalah Dilanku Tahun 1991 dan Milea: Suara dari Dilan. Alhamdulillah barusan selesai baca tiga novel tersebut. Perlu waktu sekitar 1 minggu untuk nyelesein bacanya, karena banyak dipotong kegiatan lain. Begitu baca novelnya, entah kenapa tiba-tiba jadi pengen bikin review dan postingan inilah hasilnya.

Novel Dilan, Dilan #2 dan Milea
Review ini bersifat sangat subjektif. Jadi kalau ada yang berpendapat lain, silahkan saja. Tapi harus tetap saling menghargai ya. Selain itu review ini juga SPOILER ALERT! Jadi kalau ada yang belum selesai baca novelnya dan gak mau tau gimana ending-nya, mendingan gak usah dibaca dan baca postingan yang lain aja hehe..

To sum up, trilogi novel Dilan ini bercerita tentang kisah cinta Dilan dan Milea saat mereka masih SMA di Buah Batu, Bandung. Novel Dilan dan Dilan #2 itu diceritakan dari sudut pandangnya Milea, sementara Novel Milea itu diceritakan dari sudut pandangnya Dilan. Ketiga novel tersebut menggunakan sudut pandang orang pertama. Konsep penulisan novelnya sih menarik, gw suka.

Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990

Novel Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990 diawali dengan perkenalan Milea sebagai sang tokoh utama. Kisah cinta Milea dan Dilan yang diceritakan merupakan kenangan masa lalu dari sudut pandang Milea.

Novel ini menceritakan bagaimana cara Dilan melakukan pendekatan ke Milea. Honestly, pendekatan yang dilakukan itu emang gak biasa banget. Dimulai dari pura-pura ngeramal Milea di jalan menuju sekolah, tiba-tiba datang ke rumah Milea untuk ngasih undangan masuk sekolah, nganterin Milea pulang naik angkot karena takut ada yang gangguin Milea, malem-malem ke rumah Milea pura-pura jadi utusan kantin, ngasih cokelat yang diantarkan oleh orang dengan berbagai profesi hahaha.. Pokoknya banyak banget, gak bisa disebutin satu per satu. Gw pun yang baca ikut senyum-senyum sendiri hahaha..

Hal yang gw sadari dari Dilan adalah dia laki-laki yang bisa menghargai dan melindungi perempuan. Dilan juga suka sastra, karena itu dia bahasanya agak baku dan lebih puitis dari kebanyakan pria lainnya. Meskipun kalau menurut gw, “gombalannya” ke Milea itu a little bit too cheesy dan kadang agak jayus juga.

Hal yang gw gak suka dari Milea adalah saat dia masih berstatus pacaran sama Beni dan masih tetap ngeladenin Dilan. Hmm.. gimana ya, Milea jadi terkesan sedikit ‘player’. Kejadian di Jakarta itu meskipun menyakitkan tapi hikmahnya bisa bikin Milea putus dari Beni, walaupun si Beni masih tetep ngedeketin Milea untuk ngajak balikan.

Hal utama yang bikin gw pengen nulis review adalah gw suka banget sama kedua orang tuanya Milea dan Dilan. Pikiran mereka sangat terbuka dengan kondisi Milea dan Dilan. Gw agak sedikit kaget sih melihat Milea atau Dilan yang bisa terang-terangan dekat satu sama lain di depan orang tua mereka. Hahaha.. maaf ya gw norak, maklum dulu jaman sekolah gw gak dibolehin pacaran sama orang tua. Jadinya sampai sekarang agak canggung gimana gitu kalau ngebahas tentang cowok yang lagi dekat (emang ada?) di depan orang tua.

Konflik di Novel Dilan ini diawali dari Milea yang menurut gw a little bit too panic karena ketauan Dilan pergi berdua sama Kang Adi. Perasaannya lagi karuan gak enak ditambah Anhar dan Susi yang ngajak berantem di Warung Bi Eem. Kalau ditanya salah siapa, gw sih menyalahkan Anhar yang ringan tangan. Mungkin memang si Anhar merasa Dilan jadi agak jauh ke temen-temennya semenjak deket sama Milea. I can feel him, tapi gak perlu sampai nampar Milea juga sih. Akhirnya Dilan jadi mukulin Anhar karena udah nampar Milea, menurut gw sih wajar kalo Dilan jadi marah banget gitu.

Novel Dilan ini diakhiri oleh Milan dan Dilan yang akhirnya resmi pacaran dan tanda tangan di atas materai. Mengutip sedikit kalimat di novelnya, “Dilan dan Mileanya lagi sibuk pacaran, berdua di atas motor CB 100, mengarungi Jalan Buah Batu di bawah naungan awan yang mendung”. Akhirnya status mereka resmi jadian juga haha..

Dilan Bagian Kedua: Dia adalah Dilanku Tahun 1991

Novel Dilan #2 ini time frame-nya bener-bener langsung ngelanjutin dari Novel Dilan, maksudnya cerita awalnya dimulai dari setelah mereka jadian, saat mereka lagi pacaran berdua naik motor berdua dan hujan turun. Di bagian awal, masih nyeritain gimana Milea yang seneng banget waktu denger Wati dan Piyan cerita tentang Dilan. Pokoknya di bagian awal Milea sama Dilannya masih lovey dovey lah.

Konflik dimulai saat Milea denger bahwa Dilan mau balas dendam ke orang yang udah keroyok Dilan. Sebagai seorang perempuan yang tau kalau pacarnya mau berantem itu pasti langsung panik sih. Tapi gw agak sedikit gak setuju saat tiba-tiba Milea ngancam putusin Dilan kalau Dilan tetap jadi balas dendam.

Konflik terus terjadi saat Milea tau Dilan ditangkap polisi dan akhirnya dipecat dari sekolah. Rasanya saat itu Milea jadi orang yang paling sedih sedunia. Lagi-lagi gw salut sama kedua orang tuanya Milea dan Dilan. Mereka bisa menyikapi masalah tersebut dengan cukup tenang. Kalau di dunia nyata, pacar kita ditangkap polisi dan dipecat dari sekolah pasti orang tua kita langsung ngelarang ketemu lagi kan sama pacar kita itu. Tapi di novel ini gak. Kedua orang tua mereka itu tetap positive thinking dan menurut gw itu adalah hal yang luar biasa sebagai orang tua.

Meskipun Milea dan Dilan masih tetap jadian, tapi sikap Milea mulai membatasi Dilan untuk bergaul sama teman-teman geng motornya. Gw lagi-lagi sedikit merasa gak setuju sama Milea. Padahal wajar aja sih kalau Milea ngelarang Dilan, karena dia khawatir kalo Dilan kenapa-kenapa. Tapi gak perlu terlalu berlebihan juga.

Tiba-tiba ada kabar bahwa Akew meninggal karena dikeroyok orang yang gak dikenal. Ketakutan, kecemasan dan kekhawatiran Milea pun sudah sampai pada puncaknya. Saat itu dia benar-benar marah ke Dilan dan akhirnya bersikap dingin ke Dilan supaya Dilan bisa berubah. Sampai akhirnya Milea udah gak bisa menahan dirinya untuk marah ke Dilan dan Milea pun putusin Dilan. Kalau menurut gw sih, pikirannya Milea terlalu overwhelmed with worries ke Dilan.

Setelah mereka putus pun, sisa novel itu dipenuhi oleh Milea yang rindu sama Dilan. Semua yang baca pasti bisa tau bahwa Milea segitunya mencintai Dilan. Bahkan beberapa tahun berlalu pun masih mencintai dan rindu pada Dilan. Kisah cinta yang begitu romantis pun berakhir.

Milea: Suara dari Dilan

Seperti yang sudah dibilang sebelumnya, novel Milea ini merupakan sudut pandang dari Dilan. Di awal Dilan menceritakan tentang keluarganya dan juga teman-temannya yang gak diceritain di novel Dilan dan Dilan #2.

Dilan pun sebenarnya segitunya mencintai Milea. Tapi begitu konflik mulai muncul, Dilan merasa bahwa dia dikekang oleh Milea karena terlalu banyak dibatasi. Saat Akew meninggal, sikap Milea malah jadi sangat dingin ke Dilan. Padahal saat itu Dilan lagi butuh dukungan emosional dari Milea. Tapi saat itu Milea terlalu overwhelmed dengan pikirannya sendiri sampai-sampai dia gak bisa ngertiin perasaannya Dilan yang begitu sedih karena Akew pergi untuk selamanya. Setelah itu pun Milea masih terus ngehindarin Dilan.

Teman-temannya Dilan pun merasa setelah Dilan dekat dengan Milea, Dilan jadi berubah dan terkesan Milea juga ngatur-ngatur Dilan. Saat Dilan putus dengan Milea, Dilan pun sama, selalu merasa rindu ke Milea. Dilan ingin memperbaiki hubungannya dengan Milea, tapi sikapnya Milea yang terlalu berlebihan terkait geng motornya bikin Dilan jadi mengurungkan niatnya.

Padahal sebenarnya Milea sering telepon ke rumah Dilan. Tapi saat itu Dilan ngiranya Milea udah pacaran lagi sama orang lain dan memilih untuk menjauh dari Milea. Saat pemakaman ayahnya Dilan, Milea juga melihat ada orang di samping Dilan dan mengira itu pacarnya Dilan. Akhirnya salah pahamlah mereka berdua. Dilan pun akhirnya pacaran dengan Cika. Meskipun gak diceritain sih detailnya gimana dia bisa jadian sama Cika.

Di novel Milea ini, Dilan menceritakan bahwa saat masih kuliah dia beberapa kali ketemu dan teleponan sama Milea. Milea juga cerita di Novel Dilan #2, tapi lengkapnya ada di Novel Milea ini. Karena hal itu lah, Dilan jadi sadar bahwa selama ini ada kesalahpahaman antara Milea dan Dilan. Kalau kesalahpahaman itu gak ada, mungkin saat ini Dilan masih bersama dengan Milea. Tapi apa daya, saat itu Milea udah bersama Mas Herdi dan Dilan pun udah bersama Cika. Mereka pun sama-sama menyayangi pasangan mereka masing-masing. Dilan pun akhirnya berdamai dengan masa lalunya dan menerima bahwa Milea sekarang hanya tinggal kenangan.

Mengutip beberapa kalimat di akhir novelnya, kata-kata dari Dilan untuk Milea:
“Lia, di mana pun kau berada. 
Aku tahu bukan itu yang kita harapkan, tapi itu adalah kenyataan. Ini bukan hal yang baik untuk merasakan sebuah perpisahan, tapi sekarang bagaimana caranya kita tetap akan baik-baik saja setelah itu. Menerimanya dengan ikhlas, akan menjadi lebih penting dari pada semuanya. 
Rasa sedih jika ada, itu harus berbatas untuk memberi peluang munculnya harapan pada hari-hari berikutnya, mengejar impian dan meraih kebahagiaan bersama seseorang yang dapat menghabiskan sisa hidup kita dengannya. Mudah-mudahan kita kuat, ya Lia, sekuat Kehidupan, Cinta dan Pemahaman. Rasa sedih dan kegagalan tidak selalu berarti kekalahan. 
Dan sekarang, yang tetap di dalam diriku adalah kenangan, di sanalah kamu selalu. 
Terima kasih, Lia. Terima kasih dulu kau pernah mau.”

Ending-nya sedih, karena semua mengharapkan Milea dan Dilan akan terus selalu bersama sampai jadi kakek-nenek. Tapi, begitulah realita. Gak semua yang diharapkan bisa menjadi nyata. Rasanya lagunya Ariana Grande yang Almost is Never Enough itu pas banget sama kondisinya Dilan dan Milea.
“Almost, almost is never enough
So close to being in love
If I would have known that you wanted me the way I wanted you
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each other's arms
And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough”

Rasanya nyesek sih ya. Tapi apa lagi yang bisa dilakuin? Saat itu mereka masih remaja yang masih belum bisa menentukan mana hal yang sebaiknya dilakukan. Saat ini pun mereka sudah memiliki pasangan masing-masing. Mereka berdua udah sampai di point of no return. Udah gak ada yang bisa dilakuin. Harus bisa berdamai dengan masa lalu masing-masing dan melanjutkan kehidupan.

Overall, novel ini cukup bagus kalau menurut gw dan cukup bikin book hangover habis bacanya. Gw biasanya baca novelnya Tere Liye dan baru kali ini baca novelnya Pidi Baiq.

Yaudah deh kalo gitu, selamat membaca! :)

Milea dan Dilan

Jumat, 19 Januari 2018

Accepting Yourself #QSTS_Ep2

Selamat tahun baru 2018 teman-teman! Semoga tahun ini bisa mencapai semua hal yang diinginkan yaa, aamiin..

Quote Screenshots The Series Episode 2 ini akan membahas tentang Self-Acceptance atau Penerimaan diri. Setelah Episode 1, gw emang udah kepikiran mau nulis tentang ini, karena tipe quote-nya kaya kemaren, nyambung gitu satu sama lain. Terus di pertengahan Desember denger kabar kalau Jonghyun Shinee bunuh diri. Hmmph.. ikut sedih sih meskipun bukan fans-nya Shinee. Apalagi pas lihat video prosesi funeral-nya. Anyway, kejadian itu bikin gw makin mantap mau share tentang self-acceptance ini. Karena mungkin untuk beberapa orang, menerima diri sendiri itu nggak mudah.

Sumber quote berasal dari akun Instagram thegoodquote.


Penerimaan diri atau Self-acceptance adalah suatu kemampuan individu untuk dapat melakukan penerimaan terhadap keberadaan diri sendiri. Penerimaan diri sendiri perlu kesadaran dan kemauan melihat fakta yang ada pada diri, baik fisik maupun psikis, sekaligus kekurangan dan ketidaksempurnaan, tanpa ada kekecewaan. Tujuannya untuk merubah diri menjadi lebih baik. Pengertian mengenai Penerimaan diri barusan gw nyontek dari sini hahaha..

Tapi seperti yang gw bilang sebelumnya, menerima diri sendiri itu nggak mudah. Mungkin kalian sendiri juga paham maksudnya tanpa harus dijelasin. Karena menurut gw, ini masalah yang dihadapi oleh hampir semua orang.


Langkah pertama, menerima bahwa semua orang pernah berbuat kesalahan. Percaya bahwa ada hikmah yang bisa kita ambil dan hikmah tersebut bisa membantu kita menjadi lebih dewasa. Nobody is perfect.

Langkah kedua, menerima kondisi fisik kita. Mungkin hal ini agak sulit ya dilakukan. Karena secara nggak sadar kita pasti bandingin fisik kita dengan orang lain yang mungkin lebih cantik, lebih putih, mukanya lebih mulus, lebih ramping, dll. Tapi kalau terus ngebandingin fisik diri sama orang lain itu nggak ada habisnya. Sebisa mungkin terima dan hargai apa yang sudah diberikan oleh Allah. We just don’t know that we are beautiful. Coba cari kelebihan diri kita dan berfokus pada hal positif tersebut.

Langkah ketiga, menerima bahwa kita nggak bisa merubah apa yang sudah terjadi. Penyesalan itu emang selalu datang belakangan. Karena itu kita harus hidup penuh semangat, berusaha dan berjuang agar nggak ada penyesalan yang datang dalam hidup kita.


Langkah keempat, menerima bahwa orang lain memiliki pendapatnya masing-masing, meskipun mungkin terkadang pendapatnya berlawanan, nyakitin atau bahkan sok tau. Oleh karena itu, nggak usah terlalu dipikirin. Karena yang paling tau tentang kehidupan kita itu ya kita sendiri. Mereka nggak tau apa yang udah kita lewatin untuk sampai di titik ini.

Langkah kelima, menerima bahwa pikiran, pendapat, hal yang diucapkan dan hal yang dilakukan adalah bagian dari tanggung jawab kita sendiri. Oleh karena itu harus siap dengan segala konsekuensinya, entah itu baik atau buruk. Seperti pepatah bilang, you reap what you sow.

Langkah keenam, menerima di mana kita berada saat ini di dalam perjalanan hidup kita. Mungkin saat ini semua hal sepertinya gak berjalan sesuai dengan ekspektasi, tapi kita harus tetap moving forward. There’s a place for you, maybe you just haven’t found it yet.

Sesuai dengan judulnya, intinya mah sebenarnya cuma satu, yaitu menerima. No one says it was easy. Tapi saat kita udah bisa menerima diri kita sendiri, insha Allah kita akan bisa jadi lebih tenang dan jadi lebih bahagia. :)


Sampai jumpa di #QSTS_Ep3

Minggu, 31 Desember 2017

2017 to 2018

Setelah satu tahun skip, tahun ini akhirnya memutuskan untuk nulis resolusi lagi. Tahun 2016 ke 2017 bukannya gak mau nulis, tapi mungkin lebih tepatnya males. Karena sebagian resolusi 2016 dipindahin ke 2017 haha. #ketawasedih

Ini adalah review dari Resolusi Tahun 2016:

Resolusi #1 – Ikut Sertifikasi ATPA
Sampai saat ini belum berhasil terwujud karena di konsultan yang sekarang main focus-nya adalah tentang air minum. Jadi sekarang lebih banyak belajar tentang air minum dan juga public private partnership. Menarik sih, jadi tambah wawasan baru tentang negeri ini. Gw masih mau tetep ikut Sertifikasi ATPA, tapi mungkin belum dalam waktu dekat dan bukan jadi fokus utama.

Resolusi #2 – Bisa kerja freelance AMDAL
Hmm.. untuk resolusi ini bisa dibilang berhasil dicapai, karena sempat beberapa kali freelance proyek UKL-UPL. Tapi akhir-akhir ini lagi sepi sih. Semoga ke depannya ada banyak proyek buat freelance, aamiin.

Resolusi #3 – Skor IELTS di atas 5,5
Nah ini alhamdulillah tercapai. Setelah beberapa tahun omong doang mau ambil IELTS, akhirnya Maret 2017 gw ikut Academic IELTS dan hasilnya alhamdulillah di atas target. Overall band score-nya 7. Listening: 7.5, Reading: 7, Writing: 6 dan Speaking 6.5. Alhamdulillah banget. I don’t believe it myself. Gak sia-sia bayar 2,8 juta buat ikutan tes IELTS dan belajar IELTS otodidak siang – malem pun membuahkan hasil yang manis. I’m proud of myself! You did great Day! :)

Resolusi #4 – Apply Beasiswa LPDP dan Monbukagakusho
Nah ini hasilnya 50:50. Gw apply LPDP tapi gak apply Monbukagakusho. Waktu itu alasan gak apply Monbukagakusho adalah karena kurangnya nilai IPK gw. Sedih, tapi gak ada yang bisa dilakuin. Kalau LPDP.. ini rada nyesek sih. Sistem seleksi LPDP tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini ada Assessment Online, semacam tes kepribadian gitu lah. Gw berhasil lolos Seleksi Administrasi dan gagal di Assessment Online itu. Bikin gw sempet down dan berpikir if there’s something wrong with my personality or what!? Mereka memang gak menjelaskan kriteria penilaian dari Assessment Online ini.

Setelah bertanya kepada teman lain yang juga daftar LPDP, banyak juga ternyata yang gak lolos di tahap ini. Beasiswa BUDI yang untuk dosen ternyata juga pake sistem ini. Cut pun gagal di tahap ini. Kita bahkan sempet telpon-telponan sambil curhat sampe sekitar setengah jam gara-gara ini. My fault was that I did expect a lot from LPDP. I even have already had a conditional LoA from one of the University in the UK. Luckily I could use that Conditional LoA to apply for Chevening.

Tapi, honestly kejadian ini bikin gw agak ragu untuk apply LPDP lagi tahun depan. Masalahnya adalah gw gagal di tes kepribadian! Kalau gagal di wawancara, mungkin gw masih bisa belajar untuk improve my speaking or my confidence. Tapi masalahnya ini gagal di tes kepribadian! Gimana caranya memperbaiki kepribadian coba? Apalagi kalau ternyata emang “output” yang mereka inginkan emang gak match dengan kepribadian gw. Then what should I do?!

Semenjak dapat nilai IELTS, gw rajin apply beasiswa dan gw cukup pede sama berkas aplikasi gw. Tapi hasilnya nihil. LPDP pun hasilnya gitu. Honestly, gw jadi agak pesimis. Super envious sama mereka yang bisa langsung dapat beasiswa dalam beberapa kali apply. Again, made me thinking if there’s something wrong with me. Yaah.. mungkin emang belum rejeki gw. Tapi.. yasudahlah.. bukan kuasa gw.

Resolusi #5 – Travelling ke luar negeri
Resolusi tercapai di tahun 2016. In fact, I travelled abroad quite a lot in 2016. The most remarkable one was going to South Korea of course! Selain itu, gw juga jalan-jalan ke Singapura, Malaysia dan Thailand. Sepertinya untuk beberapa tahun mendatang, belum bisa jalan-jalan jauh lagi karena ada kewajiban lain.

Resolusi #6 – Bisa nge-post minimal 1x dalam sebulan
Resolusi ini gak usah dibahas karena udah jelas gak tercapai di tahun 2016 dan 2017.

Resolusi #7 – Bisa olahraga rutin
Nah ini, lumayan tercapai sih. Beberapa waktu terakhir ini gw lumayan rutin olahraga sebelum berangkat kerja. Olahraganya yoga sekitar 10 menit dan juga semacam 7 minutes workout gitu. Lumayanlah bikin keringetan.

Resolusi #8 – Bisa nyetir motor atau mobil
Alhamdulillah beberapa bulan terakhir sering latihan nyetir mobil lagi. Sampai saat ini masih harus sering latihan di tanjakan dan juga parkir. Udah lumayan sering latihan di jalan raya sih, cuma mentalnya kadang masih suka takut gitu. Harus berani! Biar bisa nyetir sendiri kemana-mana tahun 2018!

Resolusi #9 – Menikah (?)
Hmm.. sampai saat ini belum terlihat hilalnya. Tanda-tanda mengarah ke sana juga belum ada. Saat ini belum dekat sama siapa-siapa. Pernah deket sih, tapi yasudahlah. Pernah mau dikenalin juga sih, tapi gak jadi. Pengen coba nitip CV, tapi gw gak “ukhti” banget jadi gw ragu ada yang mau sama gw. Huft.. Semoga saat bertemu dengan jodoh ada di tahun 2018. Aamiin..

Setelah nge-review resolusi tahun 2016, gw jadi bingung mau nulis apa buat resolusi 2018. Tapi tetap harus ada target lah ya, biar gak jalan di tempat. :)

Resolusi 2018
  • Dapat beasiswa di luar negeri
  • Punya SIM A
  • Menikah
  • Rajin Investasi

Cuma empat sih, tapi cara mencapainya gak ada yang mudah. Untuk SIM, katanya sekarang udah susah buat nembak, jadinya harus prepare tes sendiri. Untuk beasiswa dan menikah, lebih banyak faktor luar. Tapi gw tetep harus berusaha juga kan. Rajin investasi juga penting biar bisa dapat penghasilan tambahan. Semoga tahun 2018 menjadi saat yang baik untuk berbagai hal. Aamiin..

Terima kasih untuk semuanya di tahun 2016 dan 2017, juga よろしくお願いします (yoroshiku onegaishimasu [hasil copas XD]) untuk tahun 2018!

Rabu, 06 Desember 2017

Self Care Tips #QSTS_Ep1

Hello folks! It’s been a while..

Niatnya tuh pengen rajin nge-post lagi, kayak waktu jaman kuliah dulu, at least satu bulan ada satu posting-an baru. Tapi kenyataannya ha ha ha.. cuma bisa ketawa aja. Karena itu, sekarang mau diniatkan lagi untuk rajin nge-post. Semoga bukan wacana aamiin..

Beberapa tahun lalu, gw pernah nge-post SMS yang tidak bisa dihapus. Di posting-an itu gw ngetik satu per satu sms di inbox hp yang literally nggak bisa gw hapus karena isinya bagus. Maklum lah ya jaman kuliah dulu hp jadul, jadi memorinya cepat habis.

Nah sekarang kejadiannya hampir sama kaya beberapa tahun lalu. Bentuknya bukan SMS, tapi screenshot dari Instagram hahaha.. Mungkin kalau ada yang kenal sama gw, tau kalau gw suka quote. Jadilah galeri hp sekarang penuh dengan ratusan screenshot yang lagi-lagi literally nggak bisa dihapus. Akhirnya gw memutuskan untuk meng-upgrade SMS yang tidak bisa dihapus menjadi screenshot yang tidak bisa dihapus, tapi judul posting-annya bakal jadi Quote Screenshots The Series #QSTS hahaha.. Semoga aja bisa jadi konten regular di blog ini, biar bisa mencapai target satu bulan satu posting-an baru. Selain itu, semoga juga bermanfaat untuk teman-teman yang baca posting-an ini.

Tema Quote Screenshots The Series Episode 1 ini tentang Self Care Tips dari akun Instagram The Good Quote (backup) @thegoodquote.co.


Self Care atau Merawat Diri Sendiri itu menurut gw penting banget untuk dilakukan, demi kesehatan jiwa dan raga. Karena terlalu sibuk dengan kerjaan atau orang lain terkadang bisa bikin kita lupa sama diri kita sendiri. Ingat bahwa self care isn’t selfish.


Tips pertama, saat kita ngerasa diri kita udah mulai stres dan terbebani dengan suatu hal, kita harus coba untuk santai dan melakukan relaksasi agar kita bisa menjadi lebih santai. Cara relaksasi tiap orang berbeda. Kalau gw personally saat lagi stres gw prefer dengerin lagu dan nyanyiin lagu itu. Kalau misalnya makan es krim bisa bikin lo jadi lebih rileks, yaudah makan es krim dari pada lo jadi stres.

Tips kedua, mensana incorpore sano atau di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat, karena itu usahakan makan makanan sehat dan bergizi, sesekali aja makan junk food-nya hehe..

Tips ketiga, setelah pulang ke rumah dari rutinitas harian yang melelahkan coba mandi dengan air hangat. Salah satu manfaat dari mandi dengan air hangat adalah menghilangkan stres dan melemaskan otot-otot yang tegang, kaku dan nyeri.


Tips keempat, curhat atau sekedar ngobrol dengan sahabat atau keluarga. Terkesan simple, tapi hal ini benar-benar bisa bikin pikiran kita jadi lebih santai lagi.

Tips kelima, kita harus sadar bahwa ada beberapa hal yang nggak bisa manusia kendalikan, yaitu apa yang orang pikirkan tentang kita, apa yang dilakukan orang lain, apa yang terjadi di sekitar kita, hasil dari kerja keras kita, dan berjalannya waktu. Selain itu juga ada beberapa situasi yang nggak bisa diubah dengan mudah. Intinya harus belajar menerima.


Tips keenam, lakukan hal-hal yang bisa membuat kita menjadi lebih bahagia dan menikmati hidup, entah itu hobi atau sekedar makan es krim. You need to listen to yourself.


Tips ketujuh, nah penting banget untuk bisa menyeimbangkan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi. Pulang tepat waktu bisa bikin kita punya waktu luang lebih banyak, contohnya untuk ngelakuin hobi kamu atau ngumpul sama teman-teman.

Tips kedelapan, belajar untuk mengelola waktu dengan baik dan memprioritaskan hal-hal yang lebih penting dan baik untuk diri sendiri. Kalau bisa, ubah kebiasaan deadliner-nya (I’m talking to myself) haha..

Tips kesembilan, kita harus sadar bahwa kita memiliki keterbatasan dan punya boundary masing-masing. Terlalu memaksakan diri untuk hal yang nggak sesuai dengan diri kita justru akan bikin kita jadi lebih stres dan malah jadi benci diri sendiri.

Tips kesepuluh, tetap tersenyum, tertawa dan punya selera humor. Positive thoughts attract positive results. Tapi jangan terlalu berlebihan juga, nanti disangka nggak waras haha..

Demikian Quote Screenshots The Series Episode 1, semoga bermanfaat! Sampai bertemu di Quote Screenshots The Series Episode 2

Rabu, 25 Oktober 2017

I'm Waiting

I don't really know what to say. Everyone seems really easy to get both of them. Well this is my prejudice. I know that at some point they must have suffered. I only see the cover and yet l've already misjudged them.

I wonder if there's something wrong with me? Everyone seems really easy to get both of them, and yet I'm still here. Already took some steps for my career though. But still...

I'm trying to face reality but the truth is it is a really hard thing to do. I've tried to keep positive thoughts about it and already moved on. But when I heard about it again today, I feel sad. Makes me asking the same question again, if there's something wrong with me?

I really hope that the correct answer is No. Maybe they come a little bit late. Yes, I hope they just come a little bit late. I'm trying to do my best here, so please, please come faster. I'm waiting.