Rabu, 12 Maret 2014

Penyesalan Terbesar

Tadi sore dapat kabar duka dari seorang teman. Tanpa pikir panjang, setelah pulang kerja gw pergi ke rumahnya. Terima kasih kepada seorang teman yang sangat baik karena udah mau jemput gw di stasiun. Sesampainya di rumah duka, gw nyari temen gw itu dan saat ketemu matanya sembab banget. Wajar. Orang yang disayangi sudah pergi untuk selamanya.

Selama di sana, gw jadi inget gw sekitar 8 tahun yang lalu. Ada di posisi yang sama. Pelupuk mata mulai panas saat mengingatnya. Saat itu gw masih terlalu immature. I never know what I got till it's gone. Jika waktu bisa diputar kembali, gw ingin minta maaf karena belum bisa jadi anak yang baik dan berbakti, minta maaf karena belum bisa ngebahagiain, minta maaf karena sering ngecewain dan minta maaf karena gak bisa lebih jujur dalam ngutarain rasa cinta, kasih dan sayang gw. Minta maaf untuk semua hal. Seharusnya dulu gw bisa lebih menghargai waktu saat kita masih bersama dan ngelakuin apa yang gak bisa gw lakuin sekarang. Too painful that it hurts me so bad. Maaf. Maaf. Maaf untuk semuanya. Maaf. Maaf. Ya Allah hamba mohon biarkan beliau tenang di sisi-Mu.

Jika mengingat dulu, benci dan malu sama diri sendiri. Butuh bertahun-tahun untuk gak nangis saat lagi membicarakan topik tentang ayah. Beruntung dan bersyukurlah kalian yang masih bisa melihatnya setiap hari. Tell him that you love him. Karena bisa jadi ucapan itu gak akan pernah bisa disampaikan.