Jumat, 26 September 2014

Phil Everly - Let It Be Me

Let It Be Me


Phil Everly
Ost. Flipped


I bless the day I found you
I wanna stay around you
Now and forever
Let it be me

Don't take this heaven from one
If you must cling to someone
Now and forever
Let it be me

Each time we meet love
I find complete love
Without your sweet love
Oh what would life be

So never leave me lonely
Say that you love me only
And that you'll always
Let it be me

Say you'll always
Let it be me

***

So hangover after watched this sweet and romantic movie <3

Jumat, 19 September 2014

Bersyukur Reminder

Pernahkah kalian membaca sebuah quote di jejaring sosial yang intinya 'bersikap baiklah pada setiap orang yang kau temui, karena mereka sedang menghadapi masalah yang tidak kau ketahui.'? Pernah? Tidak pernah? Karena postingan ini akan membenarkan pernyataan tersebut.

Beberapa minggu lalu, seorang teman mengajak untuk ketemuan, untuk curhat dan diskusi seperti biasa. Biar bisa berangkat bareng, gw diminta dateng ke rumahnya yang ada di dekat area stasiun. Karena saat itu juga waktunya magrib, jadi gw sekalian sholat di rumahnya. Dia merendah bahwa rumahnya adalah gubuk. Menurut gw gak seperti itu, tapi memang ya perlu perbaikan di beberapa tempat. Sama seperti rumah Kakek dan Nenek gw yang ada di Bandung.

Setelah sholat dan berpamitan sama Ibunya, kami pun pergi ke tempat roti bakar untuk ngobrol. Sesampainya di sana, dia pun mulai cerita kehidupan masa SMA-nya dulu. Dia dan gw adalah teman SMP, bagian dari 2C dan 3C. Kami memiliki kondisi yang gak jauh beda. Ayah kami sama-sama udah gak ada. Ayah gw gak ada saat kelas 3 SMP dan Ayahnya saat 1 SMA. Setelah masa yang menyedihkan itu, kami sama-sama merasakan masa-masa gak ada pemasukan di keluarga kami masing-masing dan harus menyesuaikan keadaan dengan kondisi serba terbatas. Tidak perlu diceritakan secara detail. Mendengar kisahnya, jauh di dalam hati gw sangat bersyukur. Keadaan kami gak jauh beda, tapi gw masih bersyukur karena gak mesti melewati apa yg dia lakukan. Sampe saat ini gw sangat salut dan menghormati dia. Dia hebat! Dari kisahnya gw belajar bahwa gw harus bersyukur karena ternyata ada orang yang kehidupannya lebih di bawah gw.

Di lain waktu, gw berkesempatan berbagi kisah dengan seorang teman lainnya. Teman yang satu ini adalah teman kuliah meski beda jurusan, dan kami adalah trainmate. Kami sering ketemu karena naik kereta yang sama. Karena itu kami jadi sering bertukar cerita.

Awal dari diskusi adalah ajakan travelling yang berujung ke pengeluaran bulanan. Jadi dia ngajak travelling, gw bilang gak ada duit, dia bilang lagi tabungan dari gaji kan udah banyak, dan gw bales dikira gaji gw buat gw sendiri. Berawal dari situ. Dia nanya buat apa aja gaji gw. Setelah gw kasih tau, dia nanya lagi ayah gw kemana. Trus akhirnya gw kasih tau dia.

Gak berapa lama, gw makan malem sama dia. Saat itu lah kami bertukar cerita. Gw cerita tentang keluarga gw dan begitu pun dengan dia. Dia cerita tentang ibunya yang udah gak ada, ibu baru, juga kondisi adiknya. Gw gak pernah nyangka ternyata kehidupan yang dia jalani seperti itu, yang gw tau dia cuma travelling, travelling dan travelling. Mendengar ceritanya gw merasa bersyukur. Begitu pun sebaliknya, dia merasa bersyukur mendengar cerita gw. Saat itu, mata gw pun terbuka. Bahwa kehidupan yang kami alami masing-masing itu emang kondisi terbaik untuk kami.

Di lain waktu gw berkesempatan bertukar cerita dengan seorang teman kuliah. Saat ini kami menjadi lebih dekat karena satu dan lain hal. Dia sering cerita kondisi keluarga dan lainnya. Karena dia udah cukup terbuka untuk cerita tentang dia, gw pun akhirnya cerita tentang gw. Tentang kehidupan kuliah gw yang sama sekali belum pernah gw ceritain ke teman lainnya. Di akhir cerita dia terkesan simpati dengan gw dan hidup gw. Tapi sebenarnya gw yang justru simpati kepada dia. She has such a complex family conditions. Dia hebat bisa menghadapi semua itu.

Dari semua pengalaman tersebut, gw tiba-tiba ingat quote yang tadi gw tanyain. Ternyata itu benar. Mengutip sedikit dari buku yang baru-baru ini selesai gw baca. Mungkin seseorang terlihat ceria di luar. Tapi kita tidak tau bagaimana saat dia sendirian. Apa yang dia rasakan, apa yang telah dialami dan apa yang sedang dihadapinya. Lagipula masalah seperti itu tidak bisa diceritakan kepada sembarang orang. Gw pun akhirnya cerita hal yang selama ini gak pernah diceritakan karena tidak semua orang bisa diajak bicara tentang hal itu, dan tidak ada yang cukup terbuka untuk membicarakan masalahnya yang sensitif. Karena itu, begitu ada yang terbuka dan berada di kondisi yang gak jauh beda dari gw, gw baru bisa cerita. Seperti ada perasaan senasib gitu. Tentu tujuannya bukan untuk menyombongkan keadaan. Tapi lebih berbagi kisah dan pengalaman yang membuat kita bersyukur dengan kondisi masing-masing.

Mungkin kita pernah mengeluh mengapa begini? Mengapa begitu? Tapi pernahkah memikirkan apa yang terjadi jika tidak seperti ini? I do. I do thinking a lot. Dan di akhir pemikiran kesimpulannya selalu sama. Meski yang gw alami gak mudah, tapi gw bersyukur dengan apa yang telah terjadi. Gw yang kayak gini ada karena apa-apa yang udah gw lewatin. Mungkin ya gw sedikit iri pada kehidupan teman-teman gw yang lain. They seemed so happy hanging out in famous cafes and travelling everywhere. Tapi saat gw mencoba jujur ke diri gw sendiri, gw gak suka pergi-pergian. Mendingan di rumah ngelakuin entah apa. Pada dasarnya gw emang himono-onna sih hahaha.. Dan sebenarnya gw pun merasa gak nyaman ada di tempat seperti itu. Ada perasaan kaya ‘ini bukan tempat gw' dan kalo pergi ke sana pun hanya sekedar ingin merasakan seperti apa sih rasanya dan cukup sekali aja. Pada akhirnya kembali berpikir bahwa keadaan gw yang sekarang emang yang terbaik. Gw yakin pasti temen-temen gw itu juga punya masalah masing-masing, entah apa itu. Jadi yang terbaik dilakukan adalah mensyukuri kehidupan sendiri dan menghargai kehidupan orang lain. Gak perlu iri, karena kehidupan kita sendiri udah jauh lebih beruntung dari banyak orang. Kita aja yang selalu ngeliat ke atas. Lupa ada kehidupan juga di bawah.

And lastly, coba kalian berpikir sebentar, renungkan sejenak apa-apa yang telah terjadi di kehidupan kalian. Sudahkah kalian bersyukur?

Senin, 01 September 2014

In Memorial to Resti Haryani

Jadi gw punya teman. Namanya Resti Haryani. Dia lahir tanggal 04 September 1991. Yup, today is her birthday. Badannya mungil, but still she was very beautiful. Persahabatan antara gw dan Resti dimulai saat SMP kelas 2. Kami menjadi bagian dari kelas 2C dan 3C. Sebuah kelas yang menakjubkan dengan anggota yang sangat luar biasa. Sampai saat ini, anak-anak 3C masih sering ketemuan. Dan saat kita semua berkumpul itu amat sangat menyenangkan. I enjoy myself best. Well, I always enjoy myself, but it feels different when I'm with them.

Gw dan Resti menjadi bagian dari kelas ini. Gw agak lupa gimana posisi duduk waktu kelas 2. Tapi saat kelas 3, gw inget kalo Resti duduk di depan gw. Resti duduk sama Weni dan gw sama Hesti. Karena itulah kami jadi lebih sering ngobrol. Meskipun gw juga deket sama yang lain, kayak Icu, Omah, Nichie, Zahra, dan yang lainnya.

Hal yang akan selalu diingat tentang Resti adalah bagaimana polos dan keras kepalanya dia, juga hobinya pelihara ayam. Saat SMP dulu dia suka banget nanya hal-hal yang aneh. Bahkan kami yang ditanya pun bingung jawabannya apa. Satu pertanyaan yang masih gw inget adalah 'kenapa luar angkasa itu gelap?' Well, saat itu mana gw tau jawabannya. Kami jawabnya juga jadi ngasal, 'di luar angkasa gak ada lampu makanya gelap'. Hahaha.. kocak banget kalo inget-inget masa SMP dulu. Oh ya, dia dulu juga pernah diculik angkot pas pulang sekolah hahaha.. duh gw agak lupa ceritanya tapi hahaha.. Kalo yang ayam, dia emang suka pelihara ayam. Kalo mau ngasih makan, dia cuma bilang 'haaii' terus ayam-ayamnya dateng semua haha.. kocak kan?! Bahkan kalo gak salah dia gak mau makan ayam peliharaannya.

Pas SMA, kami jadi berpencar-pencar. Kebanyakan masuk ke SMAN 1 Serpong (sekarang jadi SMAN 7 Kota Tangsel), karena saat itu SMAN 1 Serpong itu baru berdiri, dan angkatan gw itu jadi angkatan ke-2. Nah, si Resti ini masuk ke SMK Pustek. Pas SMA jadi jarang komunikasi sih, tapi kalo ada acara buka bersama atau halal bihalal kebanyakan pasti dateng.

Gak lama, waktu perkuliahan dimulai and I've spent most of my time in Depok. Begitu pun dengan yang lain, sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Satu-satunya saat kami berkumpul kembali adalah saat acara buka bersama setiap tahun. Meski memori gw agak ngeblur saat itu, gw inget kalo gw, Hesti, Resti dan Weni berkumpul di rumah gw. Kami berkumpul karena pada saat itu Weni yang kuliah di Yogya lagi ada di Serpong, akhirnya kami menyempatkan diri untuk berkumpul. Banyak hal yang dibicarain, walaupun physically jadi makin cantik dan makin dewasa, tapi dalemnya masih sama semua. Sama kaya waktu kelas 3C. And it was so much fun. Sebelum pulang Resti ngasih kami hadiah gitu, semacam pouch batik karena waktu itu dia kerja di butik batik di daerah BSD. Pouch ini dulu sering gw pake buat HP gw, tapi akhirnya jarang dipake lagi karena ribet dan sampe saat ini pouch-nya masih ada di lemari gw.

Tahun 2013, acara annual kami tetep berlangsung. Saat itu lokasinya di Hoka-hoka Bento Flavor Bliss Alam Sutera, karena Rozi (anak 3C juga) kerja di situ. Nah disaat itu, Resti dateng dengan seorang Cowok yang diperkenalkan sebagai pacarnya. Namanya Rizki. Gak butuh waktu lama buat gw tau kalo si Rizki ini emang cocok banget sama Resti. Dia dengan sabarnya meladeni pertanyaan-pertanyaan aneh Resti. Dan saat gw perhatiin, mereka itu cocok banget, saling melengkapi satu sama lain. Setelah Idul Fitri, mereka berdua juga datang untuk bersilaturahim, juga menceritakan rencana mereka berdua untuk menikah. Well, I was so glad about it.

Awal September 2013, Rizki wa gw mau pinjam kamera gw. Dia mau ngelamar Resti pas ulang tahunnya, yup, exactly last year. Karena saat itu gw lagi survey Maratua, jadinya gw gak bisa pinjemin kamera dan cuma bisa ngucapin selamat untuk mereka berdua. Gak lama, undangan dari mereka berdua datang. Mereka berdua langsung nganterin ke rumah gw. Saat itu kayanya gw lagi lembur, jadi yang nerima undangan mereka Nyokap gw.

Akhirnya Desember pun tiba, gw dari kantor langsung ke tempat resepsi. Saat itu gw bareng sama Tya, Hesti dan Weni. Sebelum kami sampe tuh si Resti nge-wa mulu nanyain 'kapan dateng?' Gw bales kalo kami masih di jalan. Pas kami tiba di sana dia seneng banget. Di sana juga ada temen-temen yang lain, udah dateng duluan. Kami gak bisa lama-lama karena udah malem juga. Akhirnya sebelum pulang kami foto-foto dulu yang pasti hahaha..

Time goes by, udah lama gak komunikasi. Terus Resti nge-wa kata'a dia lagi sakit, sesuatu yg berkaitan sama kelenjar getah bening. Dia sampe bilang kalo dia gak boleh hamil dulu sama dokternya. Tau gitu, gw sama Hesti dan Weni rencana mau jenguk dia, tapi entah kenapa akhirnya gak jadi. Sampe tiba kembali bulan Ramadan tahun ini, agenda tahunan mulai diomongin lagi. Tahun ini Resti bilang dia bakal nyusul, karena nunggu Rizki pulang kerja dulu. Dia juga bilang mau ngajak adik iparnya. Tapi mendekati hari-H, dia jadi gak bisa dateng karena dirawat di rumah sakit, dia harus operasi pengangkatan abses gitu. Akhirnya pada saat buka bersama, kami ngerencanain untuk ngejenguk Resti keesokan harinya.

Sehari setelah buka bersama, gw, Icu, Panji, Hesti, Weni dan Iis pergi untuk ngejenguk Resti. Saat itu dia masih ada di kamar inap biasa. Dia juga masih bisa bercanda, kami cuma bisa geleng-geleng aja ngedenger cerita-ceritanya hahaha.. Saat itu kami juga nyuruh dia buat makan, karena dia gak mau makan sebelum suaminya dateng. Tapi karena kami paksa, akhirnya dia makan juga hahaha..

Everything went normally until I got messages from her husband. Dia minta temen-temen kasih support ke Resti, karena dia udah 5 hari di ICU. Sakit apanya bakal dikasih tau pas di rumah sakit. Jujur kaget banget lah gw baca pesannya itu. Pesannya itu langsung gw forward ke grup 3C. Saat itu hari selasa kalo gak salah, karena weekday itu agak sulit buat pulang cepet, gw minta tolong ke Iis yang hari rabu bakal jenguk kalo yang lainnya paling cepet baru bisa jenguk hari jumat. Jujur gw agak ngeri. Gw sempet nanya apakah kelamaan kalo jenguknya hari jumat, takut kenapa-kenapa gitu lho. Dan kami juga gak tau penyakitnya apa. Satu-satunya yang bisa kami lakuin ya ngandelin Iis. Karena dia yang bakal jenguk duluan.

Udah hari kamis, gw rada bingung kenapa Iis gak ngabarin. Akhirnya gw wa dia, nanya gimana kondisinya Resti. Dan dia bilang kondisinya Resti udah parah banget, dia apatis, udah gak bisa ngomong lagi. Dia juga udah dipasangin alat gitu. Dan dia kena kanker vulva, kanker di area alat kelamin perempuan gitu. Gw denger cerita dari Iis langsung merinding. Dia gak ngasih tau di grup karena ada nomor Resti yang lain. Takut nyinggung Rizki gitu. Setelah nomornya Resti di-remove, baru Iis ceritain di grup. Gw pun mencoba wa personal biar banyak yang dateng, karena perasaan tuh udah gak enak.

Hari jumat. Gw pulang cepet, udah minta izin sama Pak Aris dan alhamdulillah dibolehin. Gw janjian sama yang lain di BSD Square, tapi pada akhirnya berangkat berdua sama Icu. Karena Rozi dianter pacarnya dan Saumi gak jadi ikut karena ketiduran. Sesampainya di Usada Insani, kami wa Iis karena dia kerja di situ dan nanya detail penyakitnya gimana. Saat itu masih belum kebayang segimana parahnya Resti. Pas Rozi dateng, kami langsung menuju ICU.

Di ICU, gw sama Icu masuk berdua. Dari luar kami gak bisa lihat dia karena ada kolom yang ngehalangin. Saat itu kami masih belum tau. Setelah ditunjuk oleh suster mana Resti, kami baru sadar segimana parahnya dia. Resti jadi kurus banget, literally tengkorak ditambah kulit. Dan itu bukan wajah Resti yang kami kenal. Pandangannya nanar, matanya merah dan alat ada di sekitar tubuhnya. Saat kami bilang kalo kami dateng ke situ jenguk dia, matanya jadi berair dan dadanya naik turun. Gak jauh beda kayak orang nangis sesengukan. Tapi dia tetep diam. Kami bilang bahwa kami mau jalan-jalan, karena itu dia harus cepet sembuh. Gw sempet megang tangannya dan tangannya itu terasa panas. Sempet ketemu sama ibunya juga di dalam, tapi keluar duluan. Saat keluar dari ICU, gw udah gak bisa nahan tangis. Sedih banget kondisinya Resti kaya gitu. Tapi gw buru-buru ngelap air mata gw karena gw gak enak sama ibunya Resti. Saat Rozi dan Iis masuk, gw ngeliat Rizki lagi nangis di pundak temennya. Dan itu menyedihkan banget.

Akhirnya pas udah sampe di rumah, gw nge-wa temen-temen deket buat jenguk Resti karena kondisinya udah separah itu. Gw takutnya kalo besok-besok gak ada kesempatan lagi. Pas sholat Isya, itu bener-bener khusus doain Resti. There are some thought I can't avoid and some feelings I can't deny :‘(

Keesokan paginya, gw bikin kartu ucapan buat Farah dan Cut. Mereka wisuda sabtu itu. And suddenly my phone rang. Rizki telepon gw dalam kondisi nangis dan suaranya parau gak jelas. Tapi gw cukup tau apa yang mau dia sampein. Resti udah gak ada pagi itu. Perasaan campur aduk. Gw langsung kabarin di grup, juga telepon beberapa orang. Saat telepon itu, gw gak sanggup gak nangis. Setelah sedikit tenang dan udah janjian dengan yang lain, gw pun berangkat ke rumahnya yang jadi tempat persemayaman terakhir. Dan akhirnya gw memutuskan untuk gak pergi ke Depok.

Saat gw sampe di rumahnya, Resti masih belum dateng dan gw disambut teriakan histeris dari rumahnya. Mungkin itu suara Reni, adiknya. Setelah gak lama, akhirnya Resti dateng. Berbalut kain putih dan digotong. Saat itu tangis gw tumpah semua. Sama sekali gak bisa ditahan untuk beberapa detik. Temen gw -Azizi- cuma bisa nenangin sambil ngelus-ngelus kepala gw. Jadi kayak anak kecil nangis gitu. Saat tangis gw mereda, gw ketemu Rizki. Salaman dan giliran tangisnya yang tumpah. Dia hampir gak sadarkan diri gitu. Gimana gak nangis lagi gw ngeliat kayak gitu. Si Azizi lagi-lagi nenangin gw. Gak lama Rozi dateng. Dia langsung meluk gw dan nangis beberapa saat. Dia bilang feeling-nya udah gak enak dari kemaren, tapi gak nyangka akan secepat itu. Satu per satu temen-temen gw mulai berdatangan. Icu sempet bilang kalo Resti itu minta dijenguk kami banget ya? Karena gak lama kami jenguk dia udah gak ada. Mungkin ada benernya juga karena dia selalu nyeritain tentang kami ke Rizki. Rizki juga sempet bilang kalo Resti bahagia banget tahun ini ada buka bersama lagi, dan dia gak sabar untuk dateng. Tapi mau gimana lagi, kondisinya gak memungkinkan.

Setelah gw baca Yasin untuk Resti, gw menghampiri dia dan meminta maaf sambil berbisik di telinganya. Saat gw liat wajahnya, itu lebih wajah Resti dibanding wajah Resti yang kemaren gw liat di ICU. Setelah dimandiin, beberapa temen cowok ikut nyolatin dia. Setelahnya, langsung dibawa untuk dimakamkan. Karena lokasinya agak jauh, jadi nganternya pake kendaraan. Alhamdulillah, banyak teman-teman yang bisa ikut sampe akhir. Pada saat berdoa, entah kenapa semua memori gw tentang Resti flashback, dan bikin gw sedikit netesin air mata lagi. Saat mau pulang, gw liat nama nisannya dan itu beneran nama dia. It's hard to believe. Tapi gw ikhlas kok. Ini apa yang Allah pikir terbaik untuknya.

Selamat tinggal Resti. Sayonara. Semoga kamu tenang di sisi-Nya. Semoga dosa-dosa kamu diampuni oleh-Nya. You're a good friend to me. Aku minta maaf untuk semuanya dan aku berterima kasih untuk semuanya. Love you, Res :* :‘)

In memorial Resti Haryani
(04 September 1991 - 30 Agustus 2014)