Sabtu, 09 Juni 2012

story of the 6th term #JejakKelimabelas

                Dari beberapa minggu yang lalu sudah berencana untuk menulis di blog mengenai semester 6 yang sangat luar biasa. Baru sempat sekarang. Atau lebih tepatnya lagi mood menulis saat ini. Agak bingung untuk memulai sebenarnya. Hmm.. baiklah. Kuliah pertama di semester 6 adalah Paldom. Entah mengapa semester ini diawali oleh sesuatu yang menyeramkan dan menyebalkan. Pemilihan kelompok paldom –yang notabene akan menjadi kelompok pab dan limbat- ini berlangsung dengan sangat alot. Mungkin karena sudah mulai mengerti bagaimana sifat satu sama lain, orang-orang yang dianggap akan menjadi beban dilempar kesana kemari dan tidak ada yang mau menampungnya. Hingga akhirnya perlu pengorbanan dan jiwa besar dari beberapa orang, barulah terbentuk kelompok hingga saat ini. Aku ada di kelompok 8. Kelompokku terdiri dari empat orang: cut, elin, emma dan aku.

Kota Kediri
                Semenjak semester 6 ini, kota di Indonesia yang paling ingin aku kunjungi adalah Kota Kediri yang berada di Jawa Timur. Kenapa? Karena obyek perancangan kami adalah Kota Kediri. Tugas paldom, pab dan limbat membuat kami menjadi semakin ingin pergi ke Kota ini. Hanya sekedar ingin mengetahui dimana letak IPAL, IPAM atau TPA yang akan kami rencanakan, berfoto di pinggir kali Brantas, dan mungkin berkunjung ke Gudang Garam (?). Satu tempat lagi yang sepertinya harus didatangi adalah TPA Pojok di Kecamatan Mojoroto. Rasanya ingin sekali pergi ke sana. Dalam waktu dekat ini rasanya agak sulit bagi kami untuk bisa jalan-jalan ke sana. Tapi kami sudah menitipkan beberapa oleh-oleh dari teman kami –nonokyaa~- yang sering ke Kota Kediri. Semoga saja dengan oleh-oleh tersebut sedikit mengobati perasaan kami yang tidak bisa ke sana secara langsung.

Kelompok 8


                Aku benar-benar harus bersyukur dengan anggota kelompokku. Tidak ada permasalahan berarti yang terjadi. Meski tidak dipungkiri bahwa mungkin ada saat di mana aku kesal terhadap cut, elin dan emma. Dan tidak dipungkiri juga bahwa mereka pun mungkin merasakan hal yang sama. Tapi tidak ada yang pernah mencoba mengutarakan perasaan kesal itu, hingga akhirnya rasa kesal itu menjadi sebuah pelajaran dimana aku harus lebih memahami sifat dan karakter mereka. Dan aku juga bersyukur karena kami selalu bisa mengerjakan tugas sama-sama. Alhamdulillah tidak ada juga yang matil untuk dirinya sendiri. Kami selalu bisa tertawa karena candaan emma dan elin. Dan semua hal ini benar-benar patut disyukuri. Aku –dan aku pikir cut, emma dan elin juga- mendapatkan banyak hal dari kelompok ini. Aku belajar bagaimana memahami sifat, karakter bahkan kekurangan yang lainnya. Aku pun belajar menjadi ketua yang baik dan bisa mengayomi anggota kelompoknya.

Kelompok Lain
                Selama semester 6 ini, kami sering mengerjakan tubes di lobi pasca. Kami tidak sendirian di sana, ada kelompoknya ipun (ipun, nissa, meutia dan ka memet), terkadang kelompoknya fajri (fajri, satria, icha 1 dan syifa), dan juga kelompoknya april (april, eby, tika dan ayu). Kami merasakan bersama bagaimana luar biasanya tugas besar-tugas besar di semester 6 ini. Meskipun ada yang langkahnya jauh di depan kelompokku. Perasaan iri ada, kesal apalagi. Terutama setelah pembagian nilai laporan paldom yang mengubah segalanya. Kita mengerjakan di tempat dan waktu yang sama. Namun nilai kami ada jauh di bawah mereka. Sakit lho sebenarnya. Mereka pun merasa tidak enak. Kami akui kesalahan ada banyak pada kelompok kami. Tapi apa boleh buat, perasaan sakit itu tetap ada. Maaf ya teman-teman. Tapi alhamdulillahnya, perasaan itu segera menghilang. Mungkin perlu sedikit berterima kasih juga sama kelompok yang pernah matilin kelompok kami. Jadinya progress kami jadi lebih cepat dan kualitas pengerjaan tugas kami juga meningkat. Memang apa yang terjadi itu selalu ada hikmahnya.

Hubungan Dengan Orang Lain
                Semester 6 ini benar-benar membuka sifat asli semua orang. Pembagian nilai laporan paldom memang merupakan hal yang mengubah segalanya. Sempat kesal dan sebal pada orang lain. Sampai-sampai tidak bisa bersikap biasa pada orang itu. Dan ternyata yang sebal bukan hanya aku sendiri. Tapi yang lainnya juga. Begitu tahu ternyata banyak merasakan hal yang sama, jadi merasa tidak enak pada orang yang bersangkutan. Namun tetap saja, perasaan negatif yang ada di dalam hati ini membuat semua hal yang dilakukannya menjadi negatif. Padahal aku tidak tahu bagaimana kondisi orang tersebut, tapi seenaknya menilai hanya dari sudut pandangku saja. Hal ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Aku rasa aku perlu membicarakan hal ini pada orang tersebut. Untuk membuat perasaanku menjadi tenang dan memberitahu dia kondisi yang sebenarnya. Jauh lebih baik bicara langsung di depan orangnya dari pada terus-menerus membicarakan di belakang yang jelas-jelas tidak akan membawa kejelasan atas sikapnya dan tidak akan memperbaiki kondisi yang sudah terjadi. Maaf. Tapi aku rasa aku benar-benar perlu berbicara dengan dia. Maaf karena mungkin aku terlalu jelas. Namun, terima kasih sudah mendengarkan perasaan yang terpendam mengenai kekecewaan ini. Dan terima kasih sudah mau memahami sifatku yang terlalu jelas ini. Semoga ke depannya akan menjadi lebih baik untuk kita semua. Amien.

KP
                Kerja praktek yang sebenarnya menyebalkan untuk dibahas. Aturan baru, satu per satu muncul dan membuat KP ini menjadi semakin menyebalkan. Untuk informasi, teman kelompok ku adalah meutia dan raju. Berawal dari KP lingkungan yang HARUS di proyek. Oke. Masih bisa diterima. Lalu kelompok KP harus terdiri dari anak sipil dan lingkungan. Padahal kelompok sudah terbentuk, dan jadinya harus diatur ulang karena aturan ini. Oke. Masih bisa ditolerir. Yang terbaru adalah KP tidak boleh di Depok. Oke. Fine. Maksudnya apa?! Sudah tidak paham lagi deh ini KP mau dibawa ke mana. Sudah terlanjur kecewa dan malas untuk diperpanjang. Benar-benar tidak mengerti apa latar belakang di balik aturan itu. Semoga saja nanti KP-nya meyenangkan dan dapat pembimbing yang baik juga.  Amien.

Teknika
                Aku merasa bahwa aku kurang bisa memberikan dedikasi yang baik untuk Teknika. Tugas besar mengalihkan duniaku. Meski sudah bilang di awal pada Farah. Namun tetap saja. Merasa bersalah juga karena tidak bisa membina Iga dengan cukup baik. Semoga di semester depan bisa memberikan dedikasi yang lebih baik. Amien.

Kosan
                Si ucan diterima di PNJ jurusan teknik elektro. Karena itu akhirnya aku pindah kosan dan jadi ngontrak bareng sama dia. Kontrakannya ada di kutek kiri. Searah sama kang elin gitu deh. Dan ternyata itu bekas kamarnya ka osa. Wow.. suatu kebetulan. Sebenernya ada sedikit masalah sebelumnya, tapi ya sudahlah ya. Itu kesalahan saya. Semoga tempat tinggal yang baru itu juga nyaman seperti kamar kosan saya. Btw, saat menulis ini aku masih ada di griya anandita, lagi menunggu dijemput untuk ke kontrakan. I’m gonna miss griya anandita and other house mates –mbak rara, mbak shinta, mbak yanti, iim, iqna dan insum- and I haven’t try one of mbak yanti’s costume play. Hmm.. I’m really gonna miss this place.

                Sebenarnya masih banyak lagi cerita dari semester 6. Tapi yasudah disudahi di sini saja. Kesan terbesar yang dirasakan saat semester 6 adalah traumatis, dramatis, hiperbolis dan sedikit kausatif. Semoga semester yang luar biasa ini memiliki akhir yang bahagia. Aku dan teman-teman sekelompokku lulus semua mata kuliah dengan nilai yang bagus. Dan hubungan dengan sesama manusianya dapat berjalan dengan baik, tanpa adanya konflik besar lagi. Amien.